Jelang Pemilihan 2020, KPU Gelar Diskusi Strategi Meningkatkan Partisipasi

Bandar Lampung: KPU Kota Bandar Lampung menggelar diskusi publik “ Strategi Meningkatkan Partisipasi Masyarakat pada Pemilihan Kepala Daerah tahun 2020”, Kamis (08/08/2019). Ada banyak rekomendasi hal-hal strategis yang perlu dilakukan agar pada pemilihan mendatang tingkat partisipasi tidak menurun.

Komisioner KPU Kota Bandar Lampung, Fadilasari, dalam pengantar diskusi mengatakan, pada pemilu 17 April 2019 lalu tingkat partisipasi di Kota Bandar Lampung mencapai 88,6 persen, atau lebih tinggi dari target nasional sebesar 77,5 persen. Namun dalam pemilihan kepala daerah yang lalu-lalu, tingkat partisipasi selalu rendah.

“Pemilihan tahun 2005 tingkat partisipasi hanya 48 persen, kemudian pemilihan tahun 2010 meningkat menjadi 56 persen. Pada pemilihan 2015, tingkat partisipasi sudah lumayan tinggi, yaitu 66,63 persen,” ungkapnya.

Fadilasari yang merupakan Ketua Divisi Partisipasi Masyarakat KPU Kota Bandar Lampung itu berharap pada pemilihan 2020 bisa lebih tinggi lagi, agar tidak terlalu jomplang dengan partisipasi pemilu nasional kemarin,” katanya.

Ketua KPU Kota Bandar Lampung, Fauzi Heri, dalam pemaparannya menyatakan, pada pemilihan walikota 2015 lalu sebenarnya KPU Kota Bandar Lampung sudah sangat maksimal dalam melakukan sosialisasi dan pendidikan pemilih. Pertama kali diawali dengan membenahi sistem data pemilih, yang merupakan penyebab terjadinya Golput adminsitrasi. “Orang tidak memilih karena tidak terdaftar di DPT. Walaupun bisa menggunakan KTP, tapi banyak masyarakat lantas enggan datang ke TPS,” katanya.

KPU Kota Bandar Lampung juga sudah melakukan banyak terobosan dalam bidang sosialisasi, yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Seperti menggelar stand up comedy, pagelaran alat musik khas Lampung cetik on the street, pemilihan duta demokrasi, sosialisasi kepada para kepala sekolah negeri dan swasta se-Kota Bandar Lampung, dan masih banyak lagi.

“PAda akhirnya kita harus puas dengan tingkat partisipasi sebesar 66,63 persen itu. Karena dalam pemilihan kepala daerah, trend partisipasi memang tidak tinggi. bahkan di kota Medan, partisipasi masyarakat hanya 25 persen,” katanya.

Dalam diskusi yang berlangsung khikmad itu tampil pula dua pemateri lainnya, yaitu akademisi dari Universitas Lampung Siti Khoiriyah dan penggiat sosial media, Adian Saputra. Peserta yang hadir dari berbagai segmen, diantaranya pemilih pemula, tokoh masyarakat, tokoh agama, perempuan, marginal, blogger dan penggiat sosial media, serta aktivis pers kampus. (Fioren)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.