Partisipasi Perempuan Bandar Lampung pada Pemilu Cukup Tinggi

BANDAR LAMPUNG – Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandar Lampung Ika Kartika mengatakan partisipasi perempuan Bandar Lampung pada Pemilihan Umum (Pemilu) cukup tinggi. Terbukti pada Pemilihan Walikota (Pilwakot) Bandar Lampung 2015, tingkat partisipasi perempuan sebesar 70 persen, sementara laki-laki hanya 63 persen. Namun, hal berbeda terjadi pada tingkat nasional. “Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014, partisipasi perempuan 75 persen, sementara laki-laki lebih unggul yaitu 77 persen,” kata Ika dalam peningkatan partisipasi dan pengembangan komunitas perempuan bertajuk ‘Peran Strategis Perempuan dalam Meningkatkan Partisipasi Pemilih’ yang digelar bekerjasama dengan Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) setempat, di Pondok Pesantren Al-Muttaqil, Kemiling, Sabtu (28/10/2017) pagi.

Pada kegiatan Mahan Demokrasi yang diikuti 50 peserta ini, Ika mengatakan perempuan memiliki peran strategis dalam pemilu. Karena perempuan banyak memiliki kelompok kecil, seperti arisan dan pengajian. Selain itu, hak perempuan dan laki-laki pun sama sesuai dengan UUD 1945. Terlebih UU Pemilu mewajibkan keterwakilan perempuan di legislatif sebesar 30 persen.

Dalam pemilu, perempuan sangat diharapkan partisipasinya. Bentuk partisipasi bisa berupa penyaluran suara pada setiap pemilu. Namun, ada hal lain yang perempuan bisa masuk di dalamnya. Perempuan bisa mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. “Peran aktif perempuan dalam kehidupan demokrasi sangat diharapkan,” kata Ika.

Partisipasi aktif perempuan pun bisa disalurkan melalui penyelenggara pemilu atau pengawas. Di KPU Provinsi Lampung, kata Ika ada satu komisioner perempuan yang turut aktif menjadi penyelenggara pemilu. Di KPU Kota Bandar Lampung ada dua komisioner perempuan. Sementara pada pengawas, ada satu komisioner, bahkan menjadi ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). “Jadi perempuan tidak boleh pasif, harus aktif,” kata perempuan bertempat tinggal di Way Halim ini.

Selain itu, perempuan pun bisa menjadi pemimpin yang dihasilkan dari pemilu. Seperti Bupati Lampung Timur, kata Ika merupakan perempuan pertama yang menjadi bupati. Ia mengatakan derajat perempuan dan laki-laki sama. Ia berharap Fatayat NU pun bisa menjadi perempuan-perempuan aktif dalam mewujudkan demokrasi sejati.

Kedepan, Ika berharap Fatayat NU mampu menjadi perwakilan KPU disekitar tempat tinggal. Perwakilan KPU, kata Ika berarti aktif dan mengaktifkan masyarakat sekitar untuk berpartisipasi dalam setiap momen demokrasi. “Paling tidak menyosialisasikan pentingnya memilih,” ujar Ika. (Esa)

Leave a Reply