Sri Ekayanti, Plt. Kasubbag Hukum

Bandar Lampung – Namanya Sri Ekayanti, saat ini ia menjabat sebagai Plt. Kasubbag Hukum KPU Kota Bandar Lampung sejak awal tahun 2018 lalu. Ia lulus dari Fakultas Hukum di Universitas Lampung pada tahun 2001 dan mulai bekerja di KPU Kota Bandar Lampung pada bulan Maret 2016 dengan status sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Sebelumnya, ia sempat bekerja selama dua tahun di sebuah Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) Pringsewu dan resign pada tahun 2007 dikarenakan suaminya melanjutkan sekolah di Jakarta.

Setelah kembali ke Lampung, perempuan yang akrab dipanggil Eka ini memutuskan untuk mengabdi sebagai government servant di KPU Kabupaten Mesuji. Pengabdiannya di Daerah Otonomi Baru itu dilakoninya selama lima tahun sejak 2011 hingga 2016. Eka kemudian pindah bekerja di KPU Kota Bandar Lampung.

Selama lima tahun tahun tinggal di Mesuji, ia merasa beban kerja yang lebih berat dikarenakan kondisi yang mengharuskannya jauh dari anak dan suami. Selama bekerja di Mesuji, ia hanya dapat bertemu dengan keluarganya di rumah pada setiap akhir pekan saja. Di Mesuji, ia tinggal di sebuah kost yang berjarak sekitar dua ratus kilometer dari rumahnya yang berada di Way Hui, Lampung Selatan.

“Ketika bekerja di Mesuji, jauh dari anak dan suami, berat sekali untuk menjalani peran di dua tempat seperti itu. Beruntung kami sekeluarga dapat melewati momen kritis saat berjauhan tersebut dan kini dapat berkumpul menjadi keluarga yang utuh kembali dalam satu rumah. Itulah esensi pengabdian, harus rela menanggalkan dan meninggalkan kepentingan pribadi untuk negara,” terangnya.

Eka lahir di Teluk Betung pada tanggal 18 Mei 1978 dan telah menikah sejak tahun 2002 silam. Dari pernikahannya tersebut lahir seorang anak laki-laki yang saat ini duduk di bangku kelas 3 SMP Negeri 1 di bilangan Pahoman. Selain gemar membersihkan rumah, ia juga gemar kuliner dan berbelanja. Makanan favoritnya merupakan makanan khas Palembang, yaitu pempek. Sedangkan hobinya  berbelanja menurutnya menjadi salah satu kegiatan yang dapat melepaskan penat seusai bekerja dan itu membuatnya merasa bahagia.

“Shoping dapat menghapus penat, syaratnya punya cukup uang untuk belanja. Saya juga hobi kuliner meskipun begitu berat badan dan kesehatan lebih menjadi prioritas saya,” candanya sembari tertawa lepas.

Anak bungsu dari empat bersaudara ini memiliki moto untuk terus jalani saja hidup ini karena semua sudah diatur oleh Tuhan dan selalu berusaha untuk ikhlas. Moto ini muncul dari pengalaman hidup yang telah ia jalani selama 40 tahun. Baginya, manusia tidak boleh berhenti belajar dan menerima atas apapun yang terjadi.

Momen penting dalam hidupnya adalah ketika ia menjadi seorang ibu pada tahun 2003. Ia merasa banyak perubahan besar terjadi semenjak saat itu. “Menjadi seorang ibu membuat saya sadar akan beratnya tugas seorang ibu. Tidak saja hanya melahirkannya, tetapi membentuk dirinya menjadi sosok yang ideal di masa mendatang, itu yang sangat sulit sekali. Itulah perjuangan seorang ibu, kasih sayangnya tak lekang dimakan zaman,” pungkasnya.

Azma Afina

Leave a Reply