Pilgub Lampung dan Pileg: Antara Bekerja dan Berkejaran

Bandar Lampung– Tahun-tahun politik ini, bisa jadi tahun paling berat buat KPU Lampung dan perangkat berjenjangnya. Bayangkan, ada dua hajat besar yang momentumnya digelar hampir bersamaan, dengan penjabaran kerja yang sama tapi punya spesifikasi berbeda tapi saling beririsan; Pemilihan Gubernur Lampung dan Pemilu.

Beragam pernik jadi warna untuk itu semua. Deret-deret akronim mulai dari vermin (verifikasi administrasi), vertual (verifikasi faktual) sampai sidalih (sistem informasi pendaftaran pemilih) menjadi kerja yang saling berkejaran saat ini, untuk para penyelenggara pemilu semua akronim itu harus selaras.

Belum berhenti sampai disitu, masih ada lagi soal sengkarut kegandaan anggota parpol yang masih harus diverifikasi secara serius oleh KPU bersama perangkat PPK, yang jumlahnya pun tak cukup dengan hitungan jari. Disisi lain ada pula soal pembagian daerah pemilihan (dapil) yang belum tuntas.

Kerja-kerja yang menumpuk ini masih pula harus dibarengi dengan hajat lokal pemilihan kepala daerah Provinsi Lampung yang juga amat serius, yang pelaksanaannya sudah tinggal di pelupuk mata.

Di tingkat bawah, banyak pula anggota PPS yang masih belum paham tentang kelanjutan syarat E-KTP yang saat ini masih belum jelas. Karena, untuk mendapatkan selembar surat keterangan (suket, red) di kantor-kantor kependudukan, tak semudah menghadapi antrean panjang warga yang juga berjibaku untuk mendapatkan surat yang sama.

Sementara, tahapan pengolahan DP4 beserta produk turunannya juga sudah semakin dekat. Proses-proses seperti analisis DP4; pencocokan dan penelitian; rekapitulasi DPS sampai membentuk satu kesatuan dalam DPT menjadi kerja-kerja panjang.

Belum lagi, isu-isu politik lokal yang mewacana tentang calon yang maju lewat jalur perseorangan juga membutuhkan kerja-kerja panjang yang jeli dalam hal verifikasi dukungan.

Kompleksnya super pressure untuk perangkat-perangkat penyelenggara ini kadang masih pula ditingkahi dengan pernik-pernik yang terkadang intim tapi lebih banyak intimidate ditengah motto perangkat yang harus bekerja “melayani” itu semua dengan profesional.

Bayangkan, seandainya kerja cerdas yang kerap pula bersinggungan dengan statistik itu hanya bermain di ranah persepsi, sekedar untuk memuaskan publik semata, atau pula kerja-kerja berat itu dilakukan dengan metode amat konvensional dengan menafikan teknologi, hasilnya adalah ambigu.

Seorang teman dalam status satu arahnya bahkan pernah berkeluh kesah bagaimana memberi dada yang lapang kepada fungsionaris yang punya tensi tinggi sampai harus menghadapi sosok manusia konvensional ala jaman stone (batu) yang masih hidup di jaman now.

Pada akhirnya, istilah-istilah plesetan-plesetan seperti; liburan atau lemburan, menjadi humor-humor satir biasa untuk kerja yang melayani yang tak jarang lupa akan waktu itu.

Oleh:
Meza Swastika
PPK Tanjung Senang

Leave a Reply