Perginya Sang Macan Panggung, Maestro Sosialisasi KPU Kota Bandar Lampung

Bandar Lampung– Banyak yang tak percaya dengan kepergiannya. Hanya saja dua bulan terakhir ini memang ia sudah tak terdengar khabar beritanya lagi. Namun hal itu tetap tidak menyakinkan para sahabatnya. Sebab, ia memang terkadang kerap tak berkhabar berita karena memang profilnya yang rada nyeni itu tak bisa disamaratakan dengan profil orang kebanyakan.

Pria itu bernama Yudha Okistra Rasuanta berusia 43 tahun. Perihal namanya itu, pria yang berstatus duda itu pernah bertutur bahwa Rasuan adalah nama suku ibunya yang Komering Rasuan dan OKI adalah daerah asal ibunya. Saya pernah bertanya perihal Rasuan dan OKI. Menurut saya Rasuan itu adalah desa di Kabupaten OKU, bukan OKI. Namun Yudha menjawab Rasuan dan OKI adalah darah yang mengalir dari ibunya, blasteran. Sedangkan nama Yudha yang identik dengan satuan di tentara diberikan almarhum ayahnya yang memang lulusan AKABRI Angkatan Darat asal Aceh.

“Sayang umur Papa tidak panjang. Kalau dia masih hidup, tentu kami tidak seperti sekarang ini,” sesalnya suatu ketika.

Ya, sepeninggal ayahnya Yudha dibesarkan oleh ibunya yang kemudian menikah lagi. Dari pernikahannya yang kedua, Yudha mendapat seorang adik bernama Yudhi yang kini bekerja di Inspektorat KPU RI. Perihal kelulusan adiknya itu, Yudha lah orang yang paling berjasa. Berbekal pengalamannya bekerja di KPU Kota Bandar Lampung, Yudha mendapatkan informasi akan adanya rekrutmen PNS untuk KPU RI. Yudha jugalah yang mondar-mandir mengurusi persyaratan adik tirinya itu. Ketika adiknya diterima, sumringah dan kegembiraan seolah tak akan pernah lekang dari wajahnya.

Selama bertugas menjadi staf di KPU Kota Bandar Lampung, Yudha sangat mewarnai dalam setiap pelaksanaan Pemilu ataupun Pilkada. Latar belakangnya yang entertainer membuatnya serba bisa dalam mengemas acara, menjadi MC, hingga menjadi juri berbagai lomba. Pemilihan Duta Demokrasi adalah salah satu agenda sosialisasi Pemilu yang digagasnya yang kemudian menjadi role model sosialisasi Pemilu di Bandar Lampung dan daerah lain.

“Yudha itu staf yang serba bisa. Jadi MC dia memang piawai, jadi juri, jadi EO, pokoknya semua yang berbau acara, serahkan ke Yudha pasti selesai dengan baik,” ujar saya terkadang mempromosikan dia dengan rekan-rekan komisioner dari daerah lain.

Yudha, Amel dan saya (dari kanan ke kiri)

Selain itu, Yudha juga ringan tangan dan mau bersusah payah membantu kesulitan siapa saja. Ya, Yudha memang terkenal dengan jiwa sosialnya itu. Tak segan-segan ia membantu teman-temannya yang membutuhkan pertolongan. Bahkan sikap rela membantu itu juga dia tunjukkan dengan kedua orang tuanya. Dengan hidup yang masih nomaden (berpindah-pindah kontrakan), Yudha dengan sabar dan ikhlas mengurusi kedua orang tuanya yang juga dalam keadaan sakit yang tinggal satu atap dengannya. Yudha menjadi tulang punggung keluarga. Ayah tirinya yang sudah lama terbaring di pembaringan, ia rawat dengan sepenuh hati mulai dari memberikan obat, menyuapi makanan hingga memandikannya. Begitu pula dengan ibunya yang juga sakit komplikasi.

Kesabaran Yudha dalam merawat kedua orang tuanya itu terkuak ketika dia mengambil rumah di lokasi yang sama dengan Badaruddin Amir dan Ashari, Perumahan Villa Harmoni di bilangan Sukabumi, Kecamatan Sukarame. Kedua rekan satu kantornya itu menjadi saksi mata atas ketulusan Yudha dalam merawat ayah tiri dan ibunya. Sampai akhirnya beberapa bulan yang lalu, sang ayah dipanggil oleh Allah SWT.

“Saya salut dengan Yudha. Dia anak yang berbakti. Padahal ayahnya itu adalah ayah tiri, tetapi tidak ada perbedaan perlakuan yang dia tunjukkan saat merawatnya. Bahkan untuk mandi dan be-a-be saja, Yudha tidak kelihatan jijik atau sungkan membersihkannya,” urai Badaruddin Amir beberapa waktu silam.

Menjelang Bulan Ramadhan 1438 H, Yudha Okistra Rasuanta mendadak sakit. Sebelum itu, dari penampilan fisiknya telah menunjukkan jika ia tidak sehat. Tubuhnya yang tinggi berisi, menjelang jatuh sakit telah menunjukkan banyak perubahan. Wajahnya tidak lagi bercahaya dan candanya yang biasanya renyah juga seolah menghilang. Saya pernah bertanya langsung perihal perubahan itu kepadanya. Tetapi dijawab Yudha dengan jawaban sehat-sehat saja.

“Kamu kok terlihat kurus dan wajahmu jadi hitam gitu, Dha. Kamu sakit apa ya. Coba periksa dulu ke dokter, khawatir ada penyakit di tubuh kamu tuh,” saran saya kepada Yudha.

Dua minggu kemudian, Yudha terkabar jatuh sakit. Awalnya dokter tidak dapat mendeteksi apa penyakitnya. Tetapi, kondisinya langsung parah. Tubuhnya langsung menyusut, dan kulitnya menghitam. Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh, baru terdeteksi jika Yudha mengidap tumor jahat di otaknya. Ketika ia dinyatakan sehat pun, prilakunya telah berubah. Dia tak lagi mampu mengenali temannya, juga tak mampu bicara banyak dan perilakunya berubah seperti anak-anak. Kesehariannya dihabiskan di tempat tidur saja.

Yudha sempat menunjukkan gejala membaik. Namun itu tidak lama. Dua bulan lebih dari awal ia jatuh sakit, Yudha Okistra Rasuanta menghembuskan nafas terakhirnya di rumah yang baru ditempatinya di Perumahan Villa Harmony, Sukabumi, Bandar Lampung. Mirisnya, kepergiannya itu hanya beberapa waktu saja dari niat baik Yudhi, adiknya yang ingin melepas masa lajangnya.

Selamat jalan, sahabat. Allah pasti memberi ganjaran pahala bagi orang-orang yang senantiasa melakukan kebaikan. Sosokmu yang mewarnai KPU Kota Bandar Lampung, pasti selalu akan kami kenang. Doa kami para sahabatmu semoga mengantarkan dirimu ke surga yang abadi. Amin.

Fauzi Heri

Leave a Reply